Kecewa dengan Management Julog Group, Masa Blokir Jalan Masuk Perusahaan

457 views

Sintang-Ratusan Massa yang tergabung dalam aliansi petani sawit pelasma (Ampelas Borneo), bersama Ketua Umum LBH MADN dan para Temenggung menggelar acara ritual adat penutupan akses Jalan Kebun Lalang Estate Julong Group, tepatnya di pos dua divisi satu Desa Sungai Ukoi Kecamatan Sungai Tebelian Kabupaten Sintang Kalimantan Barat, Rabu 30 Maret 2022.

Ini merupakan kelanjutan dari aksi unjuk rasa di Kantor DPRD Sintang 8 Maret lalu. Aksi ini juga buntut dari kekecewaan masyarakat kepada management Julong Group tidak mensejahtrakan nasib petani pelasma, bahkan banyak hak masyrakat yang di serobot oleh pihak Julong Group.

Hermansyah selaku koordinator lapangan mengatakan aksi ini untuk mendesak pihak perushaan Julong Group untuk segera menyelasaikan permasalahan yang terjadi saat ini.

“Ada 17 poin tuntutan Ampelas, dari 17 poin kami tuntut itu harapan kami tiga hari kedepan sudah ada solusi dari pihak perushaan,” ujar Herman.

Ditambahkan Herman ada pun rentan waktu penutupan jalan ini adalah selama tiga hari kedepan. Oleh sebab itu ia berharap adanya komunikasi yang dengan pihak perusahaan selama tiga hari kedelan, sehingga masalah tersebut cepat selesai.

“Nanti hasil kesepakatan dengan pihka perusahaan kita berharap ada hitan diatas putih, dan bila perlu kita notariskan itu maunya kami petani pelasma,” tambah Herman.

Sementara itu, Yohanes Agustinus selaku Sekjen Amplas Borneo menambahkan aksi ini adalah bentuk dari petani pelasma untuk mendesak pihak perusahaan dan juga DPRD Kabupaten Sintang.

“Karena sampai saat ini mereka belum ada memberikan informasi kepada Amplas maupun LBH MADN, terkait penyelesaian masalah yang terjadi saat ini,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa Amplas tidak memaksakan kepada pihak perusahaan untuk menyelesaikan secara sekaligus dari 17 poin tuntutan tersebut.

“Kita juga menegaskan kepada perusahaan kita tidak pernah memaksa kepada mereka untuk menyelesaikan sekaligus dari 17 poin tuntutan tersebut, tapi kita mau mana yang lebih urgent-urgent itu diselesaikan terlebih dahulu,” tegasnya.

Ditempat yang sama Ketua Umun LBH MADN Jelani Christo, dirinya menilai apa yang mereka lakukan oleh perusahaan selama ini adalah tindak-tidakan kriminal dan tidak manusisawi. Oleh sebab itu ia berharap dengan adanya tindakan ini perusahaan dapat mengoreksi diri.

“Gaji orang hanya tiga ribu perhari, terus orang yang sakit tidak pernah diperhatikan sedangkan orang itu dipakai tenaga dan otaknya, ketika ada permasalahan dengan orang Dayak dia yang berhadapan dengan orang dayak sehingga Dayak hantam Dayak,” kata Jelani.

“Setelah dia sakit tidak pernah dikunjungi, tidak pernah diobati, tidak pernah diberikan THR dan sebagainya, dimana hati nurani, apakah perusahaan punya hati nurani atau tidak? Apa yang dilakukan oleh perusahaan adalah bentuk penjajahan bagi orang Dayak,” ungkap dia dengan nada kesalnya.

Selain itu kata Jelani banyak lahan masyarakat yang diserobot oleh perusahaan. “Ada banyak lahan yang diserobot sedikit-sedikit perusahaan lapor ke Polisi tanpa mengedepankan adat, bahkan lahan yang sudah bersertifikat juga di serobot oleh pihak perusahaan,” pungkas dia. (Andi)

Penulis: 
author

Posting Terkait

Tinggalkan pesan